Selasa, 09 Oktober 2012

Yovita


Foto: Yovita...

Y O V I T A



Bila kakiku terperosok, aku menyebut namanya....
Aku bermimpi dalam tidurku hidup bersama dia....
Apabila di sebut nama Yovita....
Hilanglah kekuatan jiwaku....
Hatiku seperti sirna di telan namanya....
Demi Tuhan, hampir saja aku gila karena memikirkannya....
Dadaku sesak karena rindu....


Cinta kasih dan sayang telah menyatu....
Mengalir bersama aliran darah di tubuhku....
Cinta bukanlah harapan atau ratapan....
Walau tiada harapan, aku akan tetap mencintainya....
Pandangan telah tertunduk dan matapun terpejam kepada selainnya....


Sungguh beruntung orang yang memilki kekasih....
Yang menjadi karib dalam suka maupun duka....
Karena Tuhan akan menghilangkan dari qolbu rasa sedih, bingung dan cemas....


Walaupun Yovita jauh, kasih sayangku tidak berubah....
meskipun tubuhku binasa dan jasadku menyatu dengan tanah....
Namun cinta telah mengirimkan cahaya....
Dengan Cahaya itu aku hidup dan tidak menjadi gila....


Cintaku murni, jauh dari dorongan nafsu syahwat....
Bagi pecinta....
Kebahagiaan dan kesedihan sama indahnya....
Karena cinta sejati tidak mengenal kesia-siaan.


Cinta Laila Majnun Abadi Sepanjang Masa



 

30af6h5.gif
CINTA LAILA MAJNUN

Alkisah, seorang kepala suku Bani Umar di Jazirah Arab memiIiki segala macam yang diinginkan orang, kecuali satu hal bahwa ia tak punya seorang anakpun. Tabib-tabib di desa itu menganjurkan berbagai macam ramuan dan obat, tetapi tidak berhasil. Ketika semua usaha tampak tak berhasil, istrinya menyarankan agar mereka berdua bersujud di hadapan Tuhan dan dengan tulus memohon kepada Allah swt memberikan anugerah kepada mereka berdua. “Mengapa tidak?” jawab sang kepala suku. “Kita telah mencoba berbagai macam cara. Mari, kita coba sekali lagi, tak ada ruginya.”

Mereka pun bersujud kepada Tuhan, sambil berurai air mata dari relung hati mereka yang terluka. “Wahai Segala Kekasih, jangan biarkan pohon kami tak berbuah. Izinkan kami merasakan manisnya menimang anak dalam pelukan kami. Anugerahkan kepada kami tanggung jawab untuk membesarkan seorang manusia yang baik. Berikan kesempatan kepada kami untuk membuat-Mu bangga akan anak kami.”

Tak lama kemudian, doa mereka dikabulkan, dan Tuhan menganugerahi mereka seorang anak laki-laki yang diberi nama Qais. Sang ayah sangat berbahagia, sebab Qais dicintai oleh semua orang. Ia tampan, bermata besar, dan berambut hitam, yang menjadi pusat perhatian dan kekaguman. Sejak awal, Qais telahmemperlihatkan kecerdasan dan kemampuan fisik istimewa. Ia punya bakat luar biasa dalam mempelajari seni berperang dan memainkan musik, menggubah syair dan melukis.

Ketika sudah cukup umur untuk masuk sekolah, ayahnya memutuskan membangun sebuah sekolah yang indah dengan guru-guru terbaik di Arab yang mengajar di sana , dan hanya beberapa anak saja yang belajar di situ. Anak-anak lelaki dan perempuan dan keluarga terpandang di seluruh jazirah Arab belajar di sekolah baru ini.

Di antara mereka ada seorang anak perempuan dari kepala suku tetangga. Seorang gadis bermata indah, yang memiliki kecantikan luar biasa. Rambut dan matanya sehitam malam; karena alasan inilah mereka menyebutnya Laila-”Sang Malam”. Meski ia baru berusia dua belas tahun, sudah banyak pria melamarnya untuk dinikahi, sebab-sebagaimana lazimnya kebiasaan di zaman itu, gadis-gadis sering dilamar pada usia yang masih sangat muda, yakni sembilan tahun.

Laila dan Qais adalah teman sekelas. Sejak hari pertama masuk sekolah, mereka sudah saling tertarik satu sama lain. Seiring dengan berlalunya waktu, percikan ketertarikan ini makin lama menjadi api cinta yang membara. Bagi mereka berdua, sekolah bukan lagi tempat belajar. Kini, sekolah menjadi tempat mereka saling bertemu. Ketika guru sedang mengajar, mereka saling berpandangan. Ketika tiba waktunya menulis pelajaran, mereka justru saling menulis namanya di atas kertas. Bagi mereka berdua, tak ada teman atau kesenangan lainnya. Dunia kini hanyalah milik Qais dan Laila.

Mereka buta dan tuli pada yang lainnya. Sedikit demi sedikit, orang-orang mulai mengetahui cinta mereka, dan gunjingan-gunjingan pun mulai terdengar. Di zaman itu, tidaklah pantas seorang gadis dikenal sebagai sasaran cinta seseorang dan sudah pasti mereka tidak akan menanggapinya. Ketika orang-tua Laila mendengar bisik-bisik tentang anak gadis mereka, mereka pun melarangnya pergi ke sekolah. Mereka tak sanggup lagi menahan beban malu pada masyarakat sekitar.

Ketika Laila tidak ada di ruang kelas, Qais menjadi sangat gelisah sehingga ia meninggalkan sekolah dan menyelusuri jalan-jalan untuk mencari kekasihnya dengan memanggil-manggil namanya. Ia menggubah syair untuknya dan membacakannya di jalan-jalan. Ia hanya berbicara tentang Laila dan tidak juga menjawab pertanyaan orang-orang kecuali bila mereka bertanya tentang Laila. Orang-orang pun tertawa dan berkata, ” Lihatlah Qais , ia sekarang telah menjadi seorang majnun, gila!”

Akhirnya, Qais dikenal dengan nama ini, yakni “Majnun”. Melihat orang-orang dan mendengarkan mereka berbicara membuat Majnun tidak tahan. Ia hanya ingin melihat dan berjumpa dengan Laila kekasihnya. Ia tahu bahwa Laila telah dipingit oleh orang tuanya di rumah, yang dengan bijaksana menyadari bahwa jika Laila dibiarkan bebas bepergian, ia pasti akan menjumpai Majnun. Majnun menemukan sebuah tempat di puncak bukit dekat desa Laila dan membangun sebuah gubuk untuk dirinya yang menghadap rumah Laila. Sepanjang hari Majnun duduk-duduk di depan gubuknya, disamping sungai kecil berkelok yang mengalir ke bawah menuju desa itu. Ia berbicara kepada air, menghanyutkan dedaunan bunga liar, dan Majnun merasa yakin bahwa sungai itu akan menyampaikan pesan cintanya kepada Laila. Ia menyapa burung-burung dan meminta mereka untuk terbang kepada Laila serta memberitahunya bahwa ia dekat.

Ia menghirup angin dari barat yang melewati desa Laila. Jika kebetulan ada seekor anjing tersesat yang berasal dari desa Laila, ia pun memberinya makan dan merawatnya, mencintainya seolah-olah anjing suci, menghormatinya dan menjaganya sampai tiba saatnya anjing itu pergi jika memang mau demikian. Segala sesuatu yang berasal dari tempat kekasihnya dikasihi dan disayangi sama seperti kekasihnya sendiri.

Bulan demi bulan berlalu dan Majnun tidak menemukan jejak Laila. Kerinduannya kepada Laila demikian besar sehingga ia merasa tidak bisa hidup sehari pun tanpa melihatnya kembali. Terkadang sahabat-sahabatnya di sekolah dulu datang mengunjunginya, tetapi ia berbicara kepada mereka hanya tentang Laila, tentang betapa ia sangat kehilangan dirinya.
Suatu hari, tiga anak laki-laki, sahabatnya yang datang mengunjunginya demikian terharu oleh penderitaan dan kepedihan Majnun sehingga mereka bertekad embantunya untuk berjumpa kembali dengan Laila. Rencana mereka sangat cerdik. Esoknya, mereka dan Majnun mendekati rumah Laila dengan menyamar sebagai wanita. Dengan mudah mereka melewati wanita-wanita pembantu dirumah Laila dan berhasil masuk ke pintu kamarnya.

Majnun masuk ke kamar, sementara yang lain berada di luar berjaga-jaga. Sejak ia berhenti masuk sekolah, Laila tidak melakukan apapun kecuali memikirkan Qais. Yang cukup mengherankan, setiap kali ia mendengar burung-burung berkicau dari jendela atau angin berhembus semilir, ia memejamkan.matanya sembari membayangkan bahwa ia mendengar suara Qais didalamnya. Ia akan mengambil dedaunan dan bunga yang dibawa oleh angin atau sungai dan tahu bahwa semuanya itu berasal dari Qais. Hanya saja, ia tak pernah berbicara kepada siapa pun, bahkan juga kepada sahabat-sahabat terbaiknya, tentang cintanya.

Pada hari ketika Majnun masuk ke kamar Laila, ia merasakan kehadiran dan kedatangannya. Ia mengenakan pakaian sutra yang sangat bagus dan indah. Rambutnya dibiarkan lepas tergerai dan disisir dengan rapi di sekitar bahunya. Matanya diberi celak hitam, sebagaimana kebiasaan wanita Arab, dengan bedak hitam yang disebut surmeh. Bibirnya diberi lipstick merah, dan pipinya yang kemerah-merahan tampak menyala serta menampakkan kegembiraannya. Ia duduk di depan pintu dan menunggu.

Ketika Majnun masuk, Laila tetap duduk. Sekalipun sudah diberitahu bahwa Majnun akan datang, ia tidak percaya bahwa pertemuan itu benar-benar terjadi. Majnun berdiri di pintu selama beberapa menit, memandangi, sepuas-puasnya wajah
Laila. Akhirnya, mereka bersama lagi! Tak terdengar sepatah kata pun, kecuali detak jantung kedua orang yang dimabuk cinta ini. Mereka saling berpandangan dan lupa waktu.

Salah seorang wanita pembantu di rumah itu melihat sahabat-sahabat Majnun di luar kamar tuan putrinya. Ia mulai curiga dan memberi isyarat kepada salah seorang pengawal. Namun, ketika ibu Laila datang menyelidiki, Majnun dan kawan-kawannya sudah jauh pergi. Sesudah orang-tuanya bertanya kepada Laila, maka tidak sulit bagi mereka mengetahui apa yang telah terjadi. Kebisuan dan kebahagiaan yang terpancar dimatanya menceritakan segala sesuatunya.

Sesudah terjadi peristiwa itu, ayah Laila menempatkan para pengawal di setiap pintu di rumahnya. Tidak ada jalan lain bagi Majnun untuk menghampiri rumah Laila, bahkan dari kejauhan sekalipun. Akan tetapi jika ayahnya berpikiran bahwa, dengan
bertindak hati-hati ini ia bisa mengubah perasaan Laila dan Majnun, satu sama lain, sungguh ia salah besar.

Ketika ayah Majnun tahu tentang peristiwa di rumah Laila, ia memutuskan untuk mengakhiri drama itu dengan melamar Laila untuk anaknya. Ia menyiapkan sebuah kafilah penuh dengan hadiah dan mengirimkannya ke desa Laila. Sang tamu pun
disambut dengan sangat baik, dan kedua kepala suku itu berbincang-bincang tentang kebahagiaan anak-anak mereka. Ayah Majnun lebih dulu berkata, “Engkau tahu benar, kawan, bahwa ada dua hal yang sangat penting bagi kebahagiaan, yaitu
“Cinta dan Kekayaan”.

Anak lelakiku mencintai anak perempuanmu, dan aku bisa memastikan bahwa aku sanggup memberi mereka cukup banyak uang untuk mengarungi kehidupan yang bahagia dan menyenangkan. Mendengar hal itu, ayah Laila pun menjawab, “Bukannya aku menolak Qais. Aku percaya kepadamu, sebab engkau pastilah seorang mulia dan terhormat,” jawab ayah Laila. “Akan tetapi, engkau tidak bisa menyalahkanku kalau aku berhati-hati dengan anakmu. Semua orang tahu perilaku abnormalnya. Ia berpakaian seperti seorang pengemis. Ia pasti sudah lama tidak mandi dan iapun hidup bersama hewan-hewan dan menjauhi orang banyak. “Tolong katakan kawan, jika engkau punya anak perempuan dan engkau berada dalam posisiku, akankah engkau memberikan anak perempuanmu kepada anakku?”

Ayah Qais tak dapat membantah. Apa yang bisa dikatakannya? Padahal, dulu anaknya adalah teladan utama bagi awan-kawan sebayanya? Dahulu Qais adalah anak yang paling cerdas dan berbakat di seantero Arab? Tentu saja, tidak ada yang dapat dikatakannya. Bahkan, sang ayahnya sendiri susah untuk mempercayainya. Sudah lama orang tidak mendengar ucapan bermakna dari Majnun. “Aku tidak akan diam berpangku tangan dan melihat anakku menghancurkan dirinya sendiri,”
pikirnya. “Aku harus melakukan sesuatu.”

Ketika ayah Majnun kembali pulang, ia menjemput anaknya, Ia mengadakan pesta makan malam untuk menghormati anaknya. Dalam jamuan pesta makan malam itu, gadis-gadis tercantik di seluruh negeri pun diundang. Mereka pasti bisa
mengalihkan perhatian Majnun dari Laila, pikir ayahnya. Di pesta itu, Majnun diam dan tidak mempedulikan tamu-tamu lainnya. Ia duduk di sebuah sudut ruangan sambil melihat gadis-gadis itu hanya untuk mencari pada diri mereka berbagai
kesamaan dengan yang dimiliki Laila.

Seorang gadis mengenakan pakaian yang sama dengan milik Laila; yang lainnya punya rambut panjang seperti Laila, dan yang lainnya lagi punya senyum mirip Laila. Namun, tak ada seorang gadis pun yang benar-benar mirip dengannya,
Malahan, tak ada seorang pun yang memiliki separuh kecantikan Laila. Pesta itu hanya menambah kepedihan perasaan Majnun saja kepada kekasihnya. Ia pun berang dan marah serta menyalahkan setiap orang di pesta itu lantaran berusaha
mengelabuinya.

Dengan berurai air mata, Majnun menuduh orang-tuanya dan sahabat-sahabatnya sebagai berlaku kasar dan kejam kepadanya. Ia menangis sedemikian hebat hingga akhirnya jatuh ke lantai dalam keadaan pingsan. Sesudah terjadi petaka ini, ayahnya memutuskan agar Qais dikirim untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah dengan harapan bahwa Allah akan merahmatinya dan membebaskannya dari cinta yang menghancurkan ini.

Di Makkah, untuk menyenangkan ayahnya, Majnun bersujud di depan altar Kabah, tetapi apa yang ia mohonkan? “Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja Para Pecinta, Engkau yang menganugerahkan cinta, aku hanya mohon kepada-Mu satu hal
saja,”Tinggikanlah cintaku sedemikian rupa sehingga, sekalipun aku binasa, cintaku dan kekasihku tetap hidup.” Ayahnya kemudian tahu bahwa tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk anaknya.

Usai menunaikan ibadah haji, Majnun yang tidak mau lagi bergaul dengan orang banyak di desanya, pergi ke pegunungan tanpa memberitahu di mana ia berada. Ia tidak kembali ke gubuknya. Alih-alih tinggal dirumah, ia memilih tinggal
direruntuhan sebuah bangunan tua yang terasing dari masyarakat dan tinggal didalamnya. Sesudah itu, tak ada seorang pun yang mendengar kabar tentang Majnun. Orang-tuanya mengirim segenap sahabat dan keluarganya untuk mencarinya.
Namun, tak seorang pun berhasil menemukannya. Banyak orang berkesimpulan bahwa Majnun dibunuh oleh binatang-binatang gurun sahara. Ia bagai hilang ditelan bumi.

Suatu hari, seorang musafir melewati reruntuhan bangunan itu dan melihat ada sesosok aneh yang duduk di salah sebuah tembok yang hancur. Seorang liar dengan rambut panjang hingga ke bahu, jenggotnya panjang dan acak-acakan, bajunya
compang-camping dan kumal. Ketika sang musafir mengucapkan salam dan tidak beroleh jawaban, ia mendekatinya. Ia melihat ada seekor serigala tidur di kakinya. “Hus” katanya, ‘Jangan bangunkan sahabatku.” Kemudian, ia mengedarkan
pandangan ke arah kejauhan.

Sang musafir pun duduk di situ dengan tenang. Ia menunggu dan ingin tahu apa yang akan terjadi. Akhirya, orang liar itu berbicara. Segera saja ia pun tahu bahwa ini adalah Majnun yang terkenal itu, yang berbagai macam perilaku anehnya
dibicarakan orang di seluruh jazirah Arab. Tampaknya, Majnun tidak kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan dengan binatang-binatang buas dan liar. Dalam kenyataannya, ia sudah menyesuaikan diri dengan sangat baik sehingga lumrah-lumrah saja melihat dirinya sebagai bagian dari kehidupan liar dan buas itu.

Berbagai macam binatang tertarik kepadanya, karena secara naluri mengetahui bahwa Majnun tidak akan mencelakakan mereka. Bahkan, binatang-binatang buas seperti serigala sekalipun percaya pada kebaikan dan kasih sayang Majnun. Sang
musafir itu mendengarkan Majnun melantunkan berbagai kidung pujiannya pada Laila. Mereka berbagi sepotong roti yang diberikan olehnya. Kemudian, sang musafir itu pergi dan melanjutkan petjalanannya.

Ketika tiba di desa Majnun, ia menuturkan kisahnya pada orang-orang. Akhimya, sang kepala suku, ayah Majnun, mendengar berita itu. Ia mengundang sang musafir ke rumahnya dan meminta keteransran rinci darinya. Merasa sangat gembira dan
bahagia bahwa Majnun masih hidup, ayahnya pergi ke gurun sahara untuk menjemputnya.

Ketika melihat reruntuhan bangunan yang dilukiskan oleh sang musafir itu, ayah Majnun dicekam oleh emosi dan kesedihan yang luar biasa. Betapa tidak! Anaknya terjerembab dalam keadaan mengenaskan seperti ini. “Ya Tuhanku, aku mohon agar
Engkau menyelamatkan anakku dan mengembalikannya ke keluarga kami,” jerit sang ayah menyayat hati. Majnun mendengar doa ayahnya dan segera keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan bersimpuh dibawah kaki ayahnya, ia pun menangis, “Wahai ayah, ampunilah aku atas segala kepedihan yang kutimbulkan pada dirimu. Tolong lupakan bahwa engkau pernah mempunyai seorang anak, sebab ini akan meringankan beban kesedihan ayah. Ini sudah nasibku mencinta, dan hidup hanya untuk mencinta.” Ayah dan anak pun saling berpelukan dan menangis. Inilah pertemuan terakhir mereka.

Keluarga Laila menyalahkan ayah Laila lantaran salah dan gagal menangani situasi putrinya. Mereka yakin bahwa peristiwa itu telah mempermalukan seluruh keluarga. Karenanya, orangtua Laila memingitnya dalam kamarnya. Beberapa sahabat Laila diizinkan untuk mengunjunginya, tetapi ia tidak ingin ditemani. Ia berpaling kedalam hatinya, memelihara api cinta yang membakar dalam kalbunya....



Untuk mengungkapkan segenap perasaannya yang terdalam, ia menulis dan menggubah syair kepada kekasihnya pada potongan-potongan kertas kecil. Kemudian, ketika ia diperbolehkan menyendiri di taman, ia pun menerbangkan potongan-potongan kertas kecil ini dalam hembusan angin. Orang-orang yang menemukan syair-syair dalam
potongan-potongan kertas kecil itu membawanya kepada Majnun. Dengan cara demikian, dua kekasih itu masih bisa menjalin hubungan.

Karena Majnun sangat terkenal di seluruh negeri, banyak orang datang mengunjunginya. Namun, mereka hanya berkunjung sebentar saja, karena mereka tahu bahwa Majnun tidak kuat lama dikunjungi banyak orang. Mereka mendengarkannya
melantunkan syair-syair indah dan memainkan serulingnya dengan sangat memukau. Sebagian orang merasa iba kepadanya; sebagian lagi hanya sekadar ingin tahu tentang kisahnya. Akan tetapi, setiap orang mampu merasakan kedalaman cinta dan
kasih sayangnya kepada semua makhluk. Salah seorang dari pengunjung itu adalah seorang ksatria gagah berani bernama ‘Amar, yang berjumpa dengan Majnun dalam perjalanannya menuju Mekah. Meskipun ia sudah mendengar kisah cinta yang sangat terkenal itu di kotanya, ia ingin sekali mendengarnya dari mulut Majnun sendiri.

Drama kisah tragis itu membuatnya sedemikian pilu dan sedih sehingga ia bersumpah dan bertekad melakukan apa saja yang mungkin untuk mempersatukan dua kekasih itu, meskipun ini berarti menghancurkan orang-orang yang menghalanginya!
Ketika Amar kembali ke kota kelahirannya, Ia pun menghimpun pasukannya. Pasukan ini berangkat menuju desa Laila dan menggempur suku di sana tanpa ampun. Banyak orang yang terbunuh atau terluka.

Ketika pasukan ‘Amar hampir memenangkan pertempuran, ayah Laila mengirimkan pesan kepada ‘Amr, “Jika engkau atau salah seorang dari prajuritmu menginginkan putriku, aku akan menyerahkannya tanpa melawan. Bahkan, jika engkau ingin
membunuhnya, aku tidak keberatan. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa kuterima, jangan minta aku untuk memberikan putriku pada orang gila itu”.

Majnun mendengar pertempuran itu hingga ia bergegas kesana. Di medan pertempuran, Majnun pergi ke sana kemari dengan bebas di antara para prajurit dan menghampiri orang-orang yang terluka dari suku Laila. Ia merawat mereka dengan penuh perhatian dan melakukan apa saja untuk meringankan luka mereka.

Amar pun merasa heran kepada Majnun, ketika ia meminta penjelasan ihwal mengapa ia membantu pasukan musuh, Majnun menjawab, “Orang-orang ini berasal dari desa kekasihku. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi musuh mereka?” Karena sedemikian bersimpati kepada Majnun, ‘Amar sama sekali tidak bisa memahami hal ini. Apa yang dikatakan ayah Laila tentang orang gila ini akhirnya membuatnya sadar. Ia pun memerintahkan pasukannya untuk mundur dan segera meninggalkan desa itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Majnun.

Laila semakin merana dalam penjara kamarnya sendiri. Satu-satunya yang bisa ia nikmati adalah berjalan-jalan di taman bunganya. Suatu hari, dalam perjalanannya menuju taman, Ibn Salam, seorang bangsawan kaya dan berkuasa, melihat Laila dan serta-merta jatuh cinta kepadanya. Tanpa menunda-nunda lagi, ia segera mencari ayah Laila. Merasa lelah dan sedih hati karena pertempuran yang baru saja menimbulkan banyak orang terluka di pihaknya, ayah Laila pun menyetujui perkawinan itu. Tentu saja, Laila menolak keras. Ia mengatakan kepada ayahnya, “Aku lebih senang mati ketimbang kawin dengan orang itu.” Akan tetapi, tangisan dan permohonannya tidak digubris. Lantas ia mendatangi ibunya, tetapi sama saja keadaannya. Perkawinan pun berlangsung dalam waktu singkat. Orangtua Laila merasa lega bahwa seluruh cobaan berat akhirnya berakhir juga.

Akan tetapi, Laila menegaskan kepada suaminya bahwa ia tidak pernah bisa mencintainya. “Aku tidak akan pernah menjadi seorang istri,” katanya. “Karena itu, jangan membuang-buang waktumu. Carilah seorang istri yang lain. Aku yakin, masih ada banyak wanita yang bisa membuatmu bahagia.” Sekalipun mendengar kata-kata dingin ini, Ibn Salam percaya bahwa, sesudah hidup bersamanya beberapa waktu larnanya, pada akhirnya Laila pasti akan menerimanya. Ia tidak mau memaksa
Laila, melainkan menunggunya untuk datang kepadanya.

Ketika kabar tentang perkawinan Laila terdengar oleh Majnun, ia menangis dan meratap selama berhari-hari. Ia melantunkan lagu-Iagu yang demikian menyayat hati dan mengharu biru kalbu sehingga semua orang yang mendengarnya pun ikut
menangis. Derita dan kepedihannya begitu berat sehingga binatang-binatang yang berkumpul di sekelilinginya pun turut bersedih dan menangis. Namun, kesedihannya ini tak berlangsung lama, sebab tiba-tiba Majnun merasakan kedamaian dan
ketenangan batin yang aneh. Seolah-olah tak terjadi apa-apa, ia pun terus tinggal di reruntuhan itu. Perasaannya kepada Laila tidak berubah dan malah menjadi semakin lebih dalam lagi.

Dengan penuh ketulusan, Majnun menyampaikan ucapan selamat kepada Laila atas perkawinannya: “Semoga kalian berdua selalu berbahagia di dunia ini. Aku hanya meminta satu hal sebagai tanda cintamu, janganlah engkau lupakan namaku, sekalipun engkau telah memilih orang lain sebagai pendampingmu. Janganlah pernah lupa bahwa ada seseorang yang, meskipun tubuhnya hancur berkeping-keping, hanya akan memanggil-manggil namamu, Laila”.

Sebagai jawabannya, Laila mengirimkan sebuah anting-anting sebagai tanda pengabdian tradisional. Dalam surat yang disertakannya, ia mengatakan, “Dalam hidupku, aku tidak bisa melupakanmu barang sesaat pun. Kupendam cintaku demikian
lama, tanpa mampu menceritakannya kepada siapapun. Engkau memaklumkan cintamu ke seluruh dunia, sementara aku membakarnya di dalam hatiku, dan engkau membakar segala sesuatu yang ada di sekelilingmu”. “Kini, aku harus
menghabiskan hidupku dengan seseorang, padahal segenap jiwaku menjadi milik orang lain. Katakan kepadaku, kasih, mana di antara kita yang lebih dimabuk cinta, engkau ataukah aku?.

Tahun demi tahun berlalu, dan orang-tua Majnun pun meninggal dunia. Ia tetap tinggal di reruntuhan bangunan itu dan merasa lebih kesepian ketimbang sebelumnya. Di siang hari, ia mengarungi gurun sahara bersama sahabat-sahabat
binatangnya. Di malam hari, ia memainkan serulingnya dan melantunkan syair-syairnya kepada berbagai binatang buas yang kini menjadi satu-satunya pendengarnya. Ia menulis syair-syair untuk Laila dengan ranting di atas tanah.

Selang beberapa lama, karena terbiasa dengan cara hidup aneh ini, ia mencapai kedamaian dan ketenangan sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu pun yang sanggup mengusik dan mengganggunya. Sebaliknya, Laila tetap setia pada cintanya. Ibn Salam tidak pernah berhasil mendekatinya. Kendatipun ia hidup bersama Laila, ia tetap jauh darinya. Berlian dan hadiah-hadiah mahal tak mampu membuat Laila berbakti kepadanya. Ibn Salam sudah tidak sanggup lagi merebut kepercayaan dari istrinya. Hidupnya serasa pahit dan sia-sia. Ia tidak menemukan ketenangan dan kedamaian di rumahnya.
Laila dan Ibn Salam adalah dua orang asing dan mereka tak pernah merasakan hubungan suami istri. Malahan, ia tidak bisa berbagi kabar tentang dunia luar dengan Laila.

Tak sepatah kata pun pernah terdengar dari bibir Laila, kecuali bila ia ditanya. Pertanyaan ini pun dijawabnya dengan sekadarnya saja dan sangat singkat. Ketika akhirnya Ibn Salam jatuh sakit, ia tidak kuasa bertahan, sebab hidupnya tidak menjanjikan harapan lagi. Akibatnya, pada suatu pagi di musim panas, ia pun meninggal dunia. Kematian suaminya tampaknya makin mengaduk-ngaduk perasaan Laila. Orang-orang mengira bahwa ia berkabung atas kematian Ibn Salam,
padahal sesungguhnya ia menangisi kekasihnya, Majnun yang hilang dan sudah lama dirindukannya.
Selama bertahun-tahun, ia menampakkan wajah tenang, acuh tak acuh, dan hanya sekali saja ia menangis. Kini, ia menangis keras dan lama atas perpisahannya dengan kekasih satu-satunya. Ketika masa berkabung usai, Laila kembali ke rumah ayahnya. Meskipun masih berusia muda, Laila tampak tua, dewasa, dan bijaksana,
yang jarang dijumpai pada diri wanita seusianya. Semen tara api cintanya makin membara, kesehatan Laila justru memudar karena ia tidak lagi memperhatikan dirinya sendiri. Ia tidak mau makan dan juga tidak tidur dengan baik selama
bermalam-malam.

Bagaimana ia bisa memperhatikan kesehatan dirinya kalau yang dipikirkannya hanyalah Majnun semata? Laila sendiri tahu betul bahwa ia tidak akan sanggup bertahan lama. Akhirnya, penyakit batuk parah yang mengganggunya selama beberapa
bulan pun menggerogoti kesehatannya. Ketika Laila meregang nyawa dan sekarat, ia masih memikirkan Majnun. ....Ah, kalau saja ia bisa berjumpa dengannya sekali lagi untuk terakhir kalinya! Ia hanya membuka matanya untuk memandangi pintu
kalau-kalau kekasihnya datang. Namun, ia sadar bahwa waktunya sudah habis dan ia akan pergi tanpa berhasil mengucapkan salam perpisahan kepada Majnun. Pada suatu malam di musim dingin, dengan matanya tetap menatap pintu, ia pun meninggal dunia dengan tenang sambil bergumam, Majnun…Majnun. .Majnun.

Kabar tentang kematian Laila menyebar ke segala penjuru negeri dan, tak lama kemudian, berita kematian Lailapun terdengar oleh Majnun. Mendengar kabar itu, ia pun jatuh pingsan di tengah-tengah gurun sahara dan tetap tak sadarkan diri
selama beberapa hari. Ketika kembali sadar dan siuman, ia segera pergi menuju desa Laila. Nyaris tidak sanggup berjalan lagi, ia menyeret tubuhnya di atas tanah. Majnun bergerak terus tanpa henti hingga tiba di kuburan Laila di luar
kota . Ia berkabung dikuburannya selama beberapa hari.

Ketika tidak ditemukan cara lain untuk meringankan beban penderitaannya, per1ahan-lahan ia meletakkan kepalanya di kuburan Laila kekasihnya dan meninggal dunia dengan tenang. Jasad Majnun tetap berada di atas kuburan Laila selama
setahun. Belum sampai setahun peringatan kematiannya ketika segenap sahabat dan kerabat menziarahi kuburannya, mereka menemukan sesosok jasad terbujur di atas kuburan Laila. Beberapa teman sekolahnya mengenali dan mengetahui bahwa itu adalah jasad Majnun yang masih segar seolah baru mati kemarin. Ia pun dikubur di samping Laila. Tubuh dua kekasih itu, yang kini bersatu dalam keabadian, kini bersatu kembali.

Konon, tak lama sesudah itu, ada seorang Sufi bermimpi melihat Majnun hadir di hadapan Tuhan. Allah swt membelai Majnun dengan penuh kasih sayang dan mendudukkannya disisi-Nya. Lalu, Tuhan pun berkata kepada Majnun, “Tidakkah engkau malu memanggil-manggil- Ku dengan nama Laila, sesudah engkau meminum anggur Cinta-Ku?”

Sang Sufi pun bangun dalam keadaan gelisah. Jika Majnun diperlakukan dengan sangat baik dan penuh kasih oleh Allah Subhana wa ta’alaa, ia pun bertanya-tanya, lantas apa yang terjadi pada Laila yang malang ? Begitu pikiran ini terlintas dalam benaknya, Allah swt pun mengilhamkan jawaban kepadanya, “Kedudukan Laila jauh lebih tinggi, sebab ia menyembunyikan segenap rahasia Cinta dalam dirinya sendiri.”

Syaikh Hakim Nizhami qs merupakan penulis sufi terkemuka diabad pertengahan karena dua roman cinta yang menyayat hati, yaitu Laila & Majnun serta Khusrau & Syirin. Kisah sedih Laila Majnun , Majnun yang berarti “Tergila-gila akan Cinta”, karena cintanya yang tak sampai pada Laila, akhirnya membuatnya gila. Kisah cinta ini dibaca berabad-abad lamanya inilah kisah nyata cintanya abadi sepanjang masa.

m

Dialog seorang Waliullah


 



”Dunia ini fana anehnya orang-orang memperebutkan yang fana. Allah itu kekal dan maha Suci anehnya orang-orang pada lari dari yang maha Suci”. Berakalkah?

“Wahai kekasih Allah jadikanlah lisan dan hatimu tuk berdzikir, keluar masuk nafas akan dipertanggung jawabkan, mau kemana, untuk apa , kembali kemana, apa yang dibawa. Gemuruh ombak, burung berkicau, semua makhluk memuji Allah…yang berakal kadang kalah oleh makhluk lainnya anehkan…!


Wahai hamba Allah jadikan tujuanmu untuk Allah. Jangan jadikan Allah ditelapak tanganmu, jadikan Allah diisi hatimu. Jadilah engkau kekasih Allah”.

“Wahai kekasih Allah…dunia itu bagaikan sampah yang sudah rusak. Bila kau pegang dengan tanganmu akan kena kotor.

Orang risau dan bingung dengan urusan dunia ,karena ia simpan di hati. Dan sedikit orang bingung bagaimana agar dekat dengan Allah”..sehingga ia terus mencari…

“Wahai hamba yang teraniaya bangunlah! Jadikanlah tempat dudukmu sejadah, senjatamu tasbih, bukumu Al-Qur’an, lisanmu untuk memuji, aqalmu untuk bertafakur, mata untuk menangis dan hatimu Allah..tujuanmu Allah , harapanmu Allah. Jadilah kekasih Allah, Allah akan mengabulkanmu sayang..”.

“Wahai kekasih..tidurmu, hembusan napasmu, detakan jantungmu, urat nadimu, aliran darahmu…, jadi barokah dan rahmat dalam tidurmu..”.

“wahai sahabatku.. Sejauh-jauh burung terbang mengelilingi dunia, pasti akan kembali ke titik akhir. Dan yang hanya didapat hanyalah pengalaman dan makanan.

Sejauh-jauhnya manusia merantau pasti akan kembali keasal muasal (titik penghabisan). Dan yang ia dapat pengalaman dan amal. Dunia adalah tempat menanam benih dan akhirat tempat memetik hasilnya sahabatku… pahitkah! Maniskah! Dihadapan Allah. Maha Suci Allah…

Sekuat-kuatnya pohon diterjang badai akan roboh. Sekuat-kuatnya manusia takan kuat menahan pedihnya mati. Nabi Musa a.s. pun merasa pedih ketika dicabut ruhnya apalagi kita..sahabatku…,

Wahai hamba Allah .. Sesungguhnya nama Allah itu nama yang agung dari segala yang agung. Ia memiliki 4 huruf;Alif, Lam, Lam, Ha. Nabi Muhammad 4 huruf; Mim, Ha, Mim, Dal. Dan beliau memiliki 4 sifat; Shidiq, Amanah. Fathanah, Tabligh. Sahabat beliau pun 4; Abu Bakar, Utsman, Ali dan Umar bin khatab.


Apabila nama Allah telah terpatri di hati seorang mu’min, maka ia akan diagungkan dan ditinggikan derajatnya. Dan termasuk wewangian Allah di dunia.Sahabatku.. mudah-mudahan kita termasuk pilihanNya…

Kenapa banyak orang sangat mengharapkan kedudukan di pemerintahan. Padahal kursi dihadapan Allah masih kosong…, anehkan!

Orang buta masih bisa jalan benar karena bantuan tongkatnya. Orang melek tidak bisa jalan benar kepada Allah karena buta hatinya. Karena itu yang melek pun harus punya tongkat (agama)sebagai petunjuknya. Sedangkan orang yang sudah punya agama Islam tapi tidak bisa dekat kepada Allah harus punya tongkat yaitu guru Mursyid sebagai petunjuknya.

Allah itu telah membagi rizki pada setiap hambanya, tapi anehnya orang bingung memikirkan rizkinya. Allah telah menjadikan hamba-hambaNya pada tempatnya masing-masing, tapi anehnya orang pingin yang lebih dari itu. Hal yang anehkan?

Wahai kekasih Allah…3 macam yang asing di dunia :Qur’an di dalam dada seorang yang dholim. 2. Orang sholeh di tengah kaum yang jahat. 3. Qur’an di dalam rumah yang tidak dibaca. Sungguh asing saudaraku…

Wahai hamba Allah… semua orang pada tahu bahwa siksa itu ada tapi kenapa orang banyak tertawa. Maut itu pasti datang kenapa orang banyak berhura-hura. Hisab itu pasti kenapa orang banyak beramal buruk. Qodha dan Qadar udah tentu kenapa orang banyak bersedih. Surga itu pasti kenapa orang tidak banyak beramal…
kenapa mereka berbuat begitu sungguh sayang sahabatku....

m

Karomah Para Sahabat Nabi SAW

 




Karomah Abu Bakar Shiddiq
Dari Aisyah r.a, beliau berkata :
“Abu Bakar Ash Shiddiq pernah memiliki dua puluh gantang buah kurma yang diberikan kepadaku. Ketika saat kematiannya tiba, maka ia berkata; “Wahai putriku, tidak seorang pun yang lebih kucintai dan lebih aku takuti kesusahannya darimu, dulu aku pernah berikan kepadamu dua puluh gantang buah kurma, kalau dulu telah engkau pakai, tentunya aku tak akan mempersoalkannya, tetapi pada hari ini harta itu akan jadi harta waris setelah aku tiada. Harta itu boleh engkau bagi dengan kedua saudara lelakimu dan kedua saudara perempuanmu, bagilah harta
waris itu menurut hukum Kitabullah.” Kata Aisyah: “Maka aku berkata: “Wahai ayah, kami tidak keberatan untuk membaginya, tetapi putrimu hanya Asma dan aku, maka siapakah putrimu yang lain?” Kata Abubakar: “Kini ia masih dalam perut ibunya,
yaitu Habibah binti Kharijah ibnu Zaid, kulihat, ia adalah perempuan.”
Setelah ia wafat, memang benar yang lahir adalah anak perempuan, ia diberi nama Ummu Kaltsum binti Abubakar.
Abu Bakar ash-Shiddiq memberitahukan bahwa bayi yang berada dalam kandungan istrinya adalah perempuan. (Rujuk: Karomatul Auliya’, Oleh al-Laalika’i, hal. 117)
Sayidina Umar bin al-Khaththab dapat melihat pasukan kaum muslimin padahal ia sedang berada di atas mimbar di Madinah dan pasukan sedang berada di Nahawan di wilayah Masyriq, di mana pada saat itu beliau menyerukan kepada pasukan itu, “Wahai pasukan, (berlindunglah ke balik) bukit.” Pasukan itu pun mendengarnya dan dapat memahami arahan dan Umar sehingga dapat selamat dan tipu muslihat musuh.
Bahkan kholifah yang pertama-tama dijuluki amirul mukminin ini, pendapatnya sering selaras dengan wahyu yang kemudian turun kepada Rosul SAW. (misalnya pendapat beliau tentang tawanan Badar, tentang pelarangan Khomr, tentang adzan, dan sebagainya).

Dari Abu Saeed Al-Khudri, beliau berkata : “Pada suatu malam ketika Usaid ibnu Khudhair sedang membaca Al Qur’an di pekarangan rumahnya, tiba-tiba kudanya melonjak-lonjak, sampai ia menghentikan bacaannya. Kemudian ketika ia melanjutkan bacaannya lagi, anehnya, kudanya melonjak-lonjak lagi, sampai ia menghentikan bacaannya. Kata Usaid: “Maka aku takut kalau kudaku menginjak Yahya, putraku. Ketika aku berdiri, tiba-tiba aku lihat di atas kepalaku ada naungan cahaya dan ia membumbung ke atas lambat-lambat sampai menghilang dari pandanganku.

m

m

m

m

m

Nabi Khidir Masih Hidup

Jawaban Habib Munzir Al Musawwa

2007/05/21 03:57

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Rahmat dan kebahagiaan semoga selalu terlimpah pada hari hari anda,

saudaraku yg kumuliakan,


Jumhur Muhadditsin mengatakan demikian, nabi Khidir masih hidup dan akan terus hidup hingga hari dajjal kelak, anda dapat merujuk Shahih Muslim hadits no.2938, hadits yg menjelaskan tentang Dajjal yg tak bisa menembus Madinah, lalu keluarlah seseorang dari sebaik baik manusia, seraya berkata : Aku bersaksi kau sungguh sungguh Dajjal yg dikatakan Rasulullah saw pada kita!, lalu berkatalah Dajjal : Bila kubunuh orang ini lalu kuhidupkan kembali apakah kalian masih mengeluh?, mereka menjawab : tidak. maka dajjal membunuhnya lalu menghidupkannya kembali, lalu berkatalah lelaki itu : aku makin yakin bahwa kau lah dajjal!, maka dajjal ingin membunuhnya lagi namun dajjal tak mampu", berkata Abu Ishaq, lelaki itu adalah Khidir as. (shahih Muslim hadits no.2938).

Hidupnya Khidir tidaklah menyalahi aqidah bahwa Nabi Muhammad SAW adalah penutup sekalian Nabi sebab Khidhir as hidup sebelum nabi Muhammad saw, dan Khidir mengikuti syariah Rasul saw sebagaimana Isa bin Maryam as akan turun pula menjelang Kiamat dan ia tetap membawa syariah Nabi Muhammad saw sebagaimana dijelaskan Imam nawawi dalam syarah shahih Muslim. dan telah dijelaskan mengenai turunnya Isa bin Maryam dalam riwayat hadits shahihain

Mengenai komunikasi Nabi Khidir dengan para ulama, sebagaimana ia juga dikenal oleh para sahabat, dan berkomunikasi pula di akhir zaman kelak dimasa keluarnya Dajjal, maka tak mustahil ia berkomunikasi dengan ulama, dan hal ini jelas tak bisa dipungkiri, karena iapun manusia, bukan malaikat yang tak terlihat.


وقد احتج بهذه الاحاديث من شذ من المحدثين فقال الخضر عليه السلام ميت والجمهور على حياته كما سبق في باب فضائله ويتأولون هذه الاحاديث على انه كان على البحر لا على الارض أو انها عام مخصوص

Sungguh telah berhujjah dengan hadits ini (hadits = Rasul saw bersabda bahwa setelah 100 tahun maka tak tersisa lagi yg hidup diantara kita didaratan ini), mereka yg salah dari para periwayat hadits yg mengatakan bahwa Khidir as sudah wafat, dan Jumhur (pendapat yg terkuat dan terbanyak) mengatakan bahwa ia hidup, sebagaimana dijelaskan dalam Bab keutamaannya, dan mereka menakwilkan hadits hadits ini bahwa dia (khidir as) di laut dan bukan di daratan, atau hadits itu bermakan ‘Aammun makhsush (maknanya umum tetapi ada pengecualian).
(Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 16 hal 90)

قال أبو اسحق يقال ان هذا الرجل هو الخضر عليه السلام أبو اسحق هذا هو ابراهيم بن سفيان راوى الكتاب عن مسلم وكذا قال معمر فى جامعة فى أثر هذا الحديث كما ذكره ابن سفيان وهذا لبعض منه بحياة الخضر عليه السلام وهو الصحيح

Berkata Abu Ishaq : “dikatakan bahwa lelaki ini (hadits = lelaki yg dibunuh Dajjal lalu dihidupkan kembali, lalu akan dibunuh lagi namun Dajjal tak mampu berbuat kedua kalinya) adalah khidir as, dan adapun Abu Ishaq ini adalah Ibrahim bin Sufyan, periwayat kitab dari Muslim, dan demikian pula dikatakan oleh Ma’mar dalam Jaami’ah dalam penjelasan hadits ini, sebagaimana dijelaskan pula oleh Ibn Sufyan, dan ini adalah bagian dari kehidupan Khidir as dan ini adalah shahih.
(Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 18 hal 72)

قال جعفر بن محمد فأخبرني أبي أن علي بن أبي طالب قال أتدرون من هذا هذا الخضر عليه السلام

(ketika Rasul saw wafat, maka datanglah seorang pelayat yang mengucapkan kata kata dan doa), lalu berkata Ja’far bin Muhammad, dikabarkan oleh ayahku bahwa Ali bin Abi Thalib kw berkata : “tahukah kalian siapa lelaki ini?, ia adalah Khidhir alaihissalam” (Tafsir Imam Ibn katsir Juz 1 hal 436)

فقال بعضهم لبعض تعرفون الرجل فقال أبو بكر وعلي نعم هذا أخو رسول الله صلى الله عليه وسلم الخضر عليه السلام
(ketika Rasul saw wafat, maka datanglah seorang pelayat yg mengucapkan kata kata dan doa) maka berkatalah para sahabat satu sama lain : kalian tahu siapa lelaki itu?, maka berkata Abubakar dan Ali : Ya, ini adalah saudara Rasulullah saw Al Khidhir alaihissalam. (Mustadrak Alaa shahihain no.4392).

Saudaraku, mereka yang menentang itu karena tak faham saja, dan karena dangkalnya pemahaman terhadap ilmu maka mereka masih pula tak percaya.
mereka membantah dengan dasar kedangkalan pemahaman syariah mereka atas syariah, lalu berfatwa dengan menukil nukil dari buku dan mereka reka semau mereka.
Mengenai firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: "Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad)" (QS: Al Anbiyaa': 34)
itu maksudnya tak ada manusia yang abadi, bukan berumur panjang, berumur panjang merupakan hal yg bisa saja terjadi dengan kehendak Allah swt,

Demikian pula Isa bin Maryam as yang masih hidup sebagaimana riwayat shahihain,

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu.

wallahu a'lam

http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=7&id=4257#4257


2008/03/10 05:17

Saudaraku yg kumuliakan,
mengenai Nabi ilyas as, berikhtilaf para ulama bahwa apakah ia masih hidup atau telah wafat, Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy dalam kitabnya Fathul Baari Bisyarah shahih Bukhari menjelaskan pendapat bahwa Nabi ilyas masih hidup, dan sebagian pendapat mengatakannya bahwa ia adalah Idris, (Ilyas as adalah Idris), namun Imam Ibn Hajar ra menjelaskan bahwa pendapat yg mengatakan Nabi Ilyas as masih hidup adalah dhoif.

namun beliau menyebut sumber lain namun beliau tidak memastikan sumbernya apakah shahih atau dhoif, dan penjelasan ini dijelaskan dg penjelasan panjang lebar oleh beliau

maka kesimpulannya bahwa sebagian ulama berpendapat demikian dan sebagian mengatakannya bahwa pendapat itu dhoif.

http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=7&id=12533#12533


2008/06/22 06:26

Nabi Khidir as ini tidak diketahui tinggal dimana, namun dijelaskan oleh Al Imam Nawawi dalam syarahnya bahwa Nabi Khidir as tinggal di laut, beribadah di laut, beliau berpendapat demikian karena berhujjah pada firman Allah swt yg menceritakan keberadaan Nabi Khdir as pada surat Al Kahfi, bahwa Nabi Musa as menjumpai Nabi Khidir as yg sedang beribadah ditengah laut,

namun ada beberapa riwayat bahwa para shalihin dan ulama berjumpa dengannya,. tentunya kita tidak wajib percaya namun hal itu tidak mustahil, karena ada riwayat tsigah bahwa Nabi Khidir as menghadiri jenazah Rasul saw saat Rasul saw wafat.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa tanda tanda Nabi Khidir as bahwa ibu jarinya tak bertulang, memang tanda beliau as demikian sejak lahirnya.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a'lam


http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=9&id=15529#15529

Manaqib Sulthonul Awlia Abah Anom Suryalaya

NABI KHIDIR MEMILIHKAN NAMA ABAH  


Artikel asal: Mohamad Ghouse Bin Mohd
 Saleh Khan Surattee)
Kisah ini juga dimuat di Majalah Al-
Kissah Edisi September 2011

Kisah Pada tahun 1980han, saya bersama seorang kenalan bernama Hj Yahya Hanafiah berkesempatan berjumpa dengan seorang kiyai dan wali Allah di Suryalaya yang terkenal dengan gelaran 'Macan Suryalaya''. ( sila type ''macan suryalaya'' di google ramai telah menulis mengenainya )

Ketika itu , ramai antara jamaah rombongan Singapura sudah tidur kerana jam menunjukkan jam 11 malam. Kami masuk ke Masjid Nurul Asror di mana Kiyai yang sudah berumur 125 tahun ketika itu bermalam. Banyak kisah yang di khabarkan kepada kami adalah mengenai karomah Abah Anom, seolah-olah beliau berpesan kepada kami yang muda bahawa pada zaman ini , inilah orangnya yang di tentukan Allah, berada di Indonesia.

Antara kisah yang paling menarik , Abah Pakih ( nama betulnya Kiyai Haji Abu Bakar Faqih ) menceritakan : Saya di amanatkan Abah Sepuh ( Ayanda kepada Abah Anom ) untuk menjaga Abah Anom sejak dari kecil, sejak lahir, dirumah saya yang terletak di hadapan rumah Abah Sepuh...selang beberapa hari saya menerima surat dari Nabi Khidir mencadangkan nama bayi yang baru lahir ini, tertulis dalam surat itu nama 'sohibul wafa'' atau 'tajul arifiin'' ,..di tanda tangani Alkhidr. Dengan segera saya langsung ke rumah Abah Sepuh menunjukkan surat tersebut dan Abah Sepuh berkata kalau gitu kita ambil dua-dua namanya iaitu 'Sohibul Wafa 'Tajul Arifiin'.-tamat kata-kata lebih kurang dari Almarhum Abah Fakih.

Masya Allah, tak mungkin semudah itu Abah Fakih boleh mendapat surat jika ketika itu belum lagi wali Allah. Satu renungan buat kita agar bersyukur dengan anugerah ini

KISAH SEORANG IKHWAN TENTANG GURUNYA




Sewaktu ibunya Ilham masih hidup beliau pernah bercerita tentang masa remajanya. Setiap menjelang subuh hingga pagi hari ibu harus bekerja membantu orang tuanya cuci piring, cuci pakaian, menimba air pergi ke sungai dengan jarak yang cukup jauh mengisi bak mandi hingga penuh setelah itu baru bisa turun ke sekolah.... setelah pulang sekolah membantu orang tua di dapur dll.... semua itu dikerjakan dengan penuh kesabaran.

Suatu ketika ibunya Ilham mengalami suatu keanehan.... saat itu di likur sepuluh hari yang akhir di bulan Romadhon saat itu mendadak kamar begitu terang benderang  ibunya Ilham mengira hari sudah siang cepat-cepat ibu pergi kedapur mencuci piring dikiranya bangun kesiangan lihat sekeliling rumah hari begitu terang ayam dan itik berjalan perlahan, namun ada keganjilan setiap kali menimba air seperti berlumpur, anehnya lagi disekeliling rumah semua pepohonan dan rerumputan merebah bersujud menghadap Kiblat. Melihat keadaan di sekelilingnya jadi merinding namun ibu takut di marah orang tuanya jika telat bekerja maka pekerjaan selanjutnya adalah turun ke sungai tuk mengisi bak mandi hingga penuh. Keanehan pun terjadi setiap kali menimba air berubah jadi berlumpur dan air sungai pun anehnya tidak mengalir tidak bergerak air sungai itu seperti berhenti mengalir ibunya Ilham jadi ketakutan langsung pulang ke rumah menuju kamar. Tiba-tiba orang tuanya menegur koq kerjanya malam hari kan masih gelap gulita, kemudian di Jawab oleh ibunya Ilham bahwa hari sudah siang. Lalu di jawab sama orang tuanya apa kamu tidak lihat di sekeliling rumah hari masih gelap gulita. Mendadak ibunya Ilham kaget tiba-tiba hari kembali gelap gulita. Pada ke esokan harinya ibunya Ilham ke luar rumah bertemu dengan seorang nenek yang mengerti agama, kenapa ya semalam saya lihat semua pohon disini pada rebah bersujud koq sekarang tegak berdiri lagi aneh ya.... kata nenek itu cucuku pepohonan ini ya berdiri terus tidak ada yang rebah... akhirnya ibunya Ilham bercerita kepada nenek itu kejadian aneh yang dia alami tadi malam, dia tidak cerita kepada siapa pun termasuk orang tuanya dia takut... nenek itu pun berkata cucuku, kamu sungguh beruntung telah bertemu malam Lailatul Qodar apakah kamu sempat berdoa meminta sesuatu kepada Allah ??  ibunya Ilham menjawab saya tidak mengerti dan saya tidak tahu kalau saat itu adalah malam Lailatu Qodar saya tidak sempat meminta bahkan saya ketakutan tubuh merinding saya lari ke kamar saya tutup pintu mendadak hari kembali gelap..


Di lain waktu saat ibunya ilham masih hidup pernah bercerita tentang masa lalu saat tinggal di kampung dulu  kondisi kampung masih hutan belantara jarak antara rumahnya dengan tetangga lainnya cukup jauh dan dibelakang rumah banyak kuburan muslimin. Saat itu Ilham masih dalam kandungan usia kandungan baru 5 bulan. Keanehan sering terjadi setiap malam kamis dan malam jum'at menjelang subuh selalu terdengar suara ada orang yang sedang Azan suara orang yang sedang sholat berjama'ah hingga suara zikir Tahlil begitu ramainya  لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ di alam kubur suara itu begitu jelasnya sampai tiba datangnya waktu subuh suara itupun mendadak hilang. Jarak rumah yang begitu jauh dengan masjid tidak ada suara azan yang terdengar hingga ke rumah. Ibu pergi mencari sumber suara itu ternyata suara itu datangnya dari belakang rumah di kuburan makam kaum muslimin tampak kuburan itu penuh dengan cahaya terang benderang.... Suara Azan, sholat berjama'ah hingga suara Tahlil Zikir itu terus menerus menggema dari dalam kubur. Suara itu terus berlangsung beberapa bulan lamanya hingga usia kehamilan 9 bulan sampai akhirnya pada suatu malam lahir seorang anak lelaki yang di beri nama Ilham. Gema suara Azan suara orang sholat dan suara tahlil zikir itupun hilang tidak pernah terdengar lagi tuk selamanya.
 
Inilah sekelumit Manaqib Sulthonul Awlia Sayyidi Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin. Kisah seorang ikhwan namanya Ilham saat itu masih duduk di bangku Kelas 2 SMU Ilham mengambil bai'at TQN yang mentalqin adalah KH. Muhammad Nur dari Pontianak. Pada waktu itu Pak Wong seorang Pensiunan Polisi sering ke Suryalaya dan bertemu Abah Anom ilham pun tidak lupa menitipkan surat tuk disampaikan ke Abah minta do'a tuk meraih segala impian. Saat itu cita-cita ilham tinggi sekali ingin masuk AKABRI namun apa yang ingin diraihnya tidak tercapai pada akhirnya memutuskan tuk melanjutkan pendidikan ke bangku Kuliah di IAILM Suryalaya Tasikmalaya. Segeralah Ilham berangkat menuju kesana ditemani oleh bibinya. Saat itu di Suryalaya lagi ada Manaqiban Jama'ahnya luar biasa banyaknya. Ilham ikut menyimak pengajian itu hingga usai kemudian ikut antri bersama para jama'ah sekedar inginbersilaturahmi bertemu Abah. 


Setelah sekian lama mengantri tibalah saatnya giliran Ilham bersalaman kemudian mencium tangan Sang Wali Agung hati penuh syukur bisa berjumpa dengan orang yang paling di cintai oleh Allah dan Rasulnya. akhirnya bertemu. Selesai dari tempat Abah, kemudian Ilham dibawa bibinya silaturahmi ke rumah Mama Otin Putri Abah. singkat cerita mama Otin menerima perintah dari Abah membawa sebuah mangkuk putih terdapat makanan bekas Abah diberikan kepada Ilham tuk dimakan.
Waktu berjalan begitu cepat tak terasa saat wisuda pun tiba, Ilham berhasil meraih Gelar Sarjana. Ibu tercinta datang menjemput ke Suryalaya maka menghadaplah Ilham dan ibunya kepada Guru Tercinta Pangersa Abah Anom ingin pamitan pulang ke kampung halaman mohon doa restu dari Pangersa Abah... Abah pun berpesan kepada Ilham bahwa Pangersa Abah telah memberikan ilmunya kepada Ilham maka kembangkanlah Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyyah...  

Setelah dapat doa restu dari Abah, Ilham bersama ibu tercinta berangkat pulang ke kampung halaman selamat asampai tujuan. Sesampainya ke Kampung halaman informasi yang beredar di kalangan ikhwan bahwa saat Ilham pertama kali berkirim surat ke Abah dulu Abah sudah pernah berucap ke salah seorang sesepuh Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyah di daerahnya dikemudian hari nanti Ilham akan menimba ilmu ke Suryalaya. Begitupun sewaktu dalam perjalanan hendak menimba ilmu ke Suryalaya sewaktu Ilham masih dalam perjalanan Abah pernah mengirim orang kepercaya'annya tuk menunggu Ilham di gerbang Suryalaya.


Pada suatu hari Ilham menerima Ijazah Saifi Hizbul Yamani dari Abah Anom di amalkan selama 40 hari pada saat itu usianya masih sangat muda tuk menerima Ijazah Saifi baru 20 tahun, Amalan Saifi ini umumnya dibaca cukup 1 kali dalam sehari selama 40 hari tidak bersentuhan kulit dengan wanita. Namun Amalan yang Ilham baca tidak kurang dari 70 kali dalam sehari. Suatu hari Ilham pergi silaturahmi kepada pak Haji Dudun putra Abah yang paling tua anehnya beliau tiba-tiba memintanya tuk mengurangi jumlah bacaan Saifi Hizbul Yamani cukup 3 kali saja beliau melihat dengan mata batin tubuh Ilham menyala seperti bara. Alm. Pak Haji Dudun bercerita dulu pernah ada di Suryalaya seorang ikhwan yang mendapatkan ijazah Saifi Hizbul Yamani dari Abah di amalkan cukup 1 kali dalam sehari tetapi dia mencoba membacanya sebanyak 3 kali mendadak tubuhnya kepanasan lalu melompat ke kolam. Beliau mengatakan bersyukurlah kepada Allah telah di anugrahi kekuatan fisik...
 

Di Suatu malam Ilham bermimpi berenang di tengah samudra yang luas menyelam ke dalam samudera dan mendapatkan mutiaranya.
Aneh memang esok harinya ingin jalan kaki ziarah makam wali saat itu baru liburan semester. Kisah ini terjadi pada tahun 2002, tersebutlah beberapa orang mahasiswa IAILM Pesantren Suryalaya berdiskusi di kampus dan berbicara kesana kemari dari yang bersifat politik, sosial, dan apa saja tentang isu pekembangan terbaru saat itu. Obrolan pun berlanjut kepada kajian tasawuf dan sejarah tasawuf di masa Abah Sepuh. Salah satu mahasiswa berkata : eh.. kawan gimana kalau kita lakukan napak tilas Abah sepuh, yaitu ziarah berjalan kaki walisongo sampai ke Madura. Agar kita mendapatkan barokah. Maka sepakatlah tiga orang mahasiswa menghadap Abah Anom yaitu, Subhan Fajri ( Sekarang sudah  jadi Trainer juga Dosen Universitas Latifah Mubarokiyyah Suryalaya ), Ahmad Zaky ( sekarang jadi seorang Pendidik di Brebes ) dan Ilham.

Ketika menghadap Abah Anom beliau diam menunduk tawajjuh, kemudian Abah menunjuk sambil berkata ; kamu ( Subhan Fajri ) mandi malam saja selama 40 hari, dan kamu ( Ahmad Zaky ) puasa kifarat selasa, rabu dan kamis, malam jumat melek, dan kamu yang ketiga ( Ilham ) silahkan berangkat..” setelah itu ketiga mahasiswa pamit dari madrasah dalam kebingungan, apalagi orang yang ketiga ternyata Ilham di izinkan Abah Anom dan nyatanya harus berangkat sendirian, tidak sesuai dengan rencana awal bersama berangkat.

Sambil terus berfikir, maka sepakat saling memotivasi harus menjalankan apa yang di izinkan oleh gurunya, walaupun Ilham merasa berat sekali karena alasan tidak ada teman dan memang belum pernah sama sekali ke daerah jawa dan Madura. Dan beberapa hari kemudian Ilham-pun berangkat memulai perjalanan, yang sebelumnya ziarah ke makam Abah Sepuh, bekal uang sebesar Rp. 55.000 telah disiapkan. Cukup tidak cukup ia hanya punya keyakinan akan karomat gurunya dan ia pun siap pasrah.

Setelah beberapa hari Ilham berangkat, Ahmad Zaky ( yang mendapatkan izin puasa ) bersikeras ingin ikut napak tilas pergi menyusul dari Brebes Jawa tengah dan bertemu Ilham disana. Akhirnya beriring-iringan kedua mnahasiswa itu, walau Ilham agak khawatir karena dia tidak di izinkan oleh gurunya. Perjalananpun dimulai dan anehnya sampai di Demak selesai ziarah ke Makam Sunan Kalijaga kaki si Zaky lecet dan mulai bengkak akhirnya menyerah ia pun pulang lagi ke Brebes naik kendaraan umum, karena benar-benar tidak kuat untuk melanjutkan perjalanan. Tapi anehnya Ilham terus berjalan dan merasakan kakinya terasa ringan. Zaky sadar Abah tidak merestui hingga ia tidak ada kekuatan. Singkat cerita Ilham berhasil melakukan perjalanan selama 2 bulan sepuluh hari dengan menghabiskan sekitar 7 sandal jepit. Dan selama perjalanan itu pula banyak mengalami keanehan-keanehan yang luar biasa, ia tidak pernah kelaparan, bahkan modal uang hanya Rp. 55.000 bertambah hampir satu juta lebih.

Ilham mulai berangkat diam-diam dari Suryalaya jam 5 sore dengan membawa uang Rp. 55.000 jalan kaki menuju Panjalu ziarah disana kemudian pergi berjalan menuju Cirebon tuk beriarah ke Makam Sunan Gunung Jati kemudian ke Makam Syeikh Tolhah dan mampir di rumah sahabat Subhan Fajri silaturahmi kepada orang tuanya kemudian melanjutkan perjalanan ke Brebes bertemu Zaky kemudian ziarah menuju Jawa tengah dan Jawa Timur hingga akhirnya sampailah ke Pamekasan Madura. Selain zirah ke makam wali songo tidak lupa ziarah ke makam para wali lainnya ziarah ke makam Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, makam Sunan Pandanaran, Sunan Sendang Duwur, Syeikh Siti Jenar, Kyai Saleh Darat, Kyai Musyaffa Kaliwungu, Habib Abu Bakar As-Saqqaf Gresik, Syeikh Kholil Bangkalan dll... Ilham tidur malam hari menginap di Masjid dan selesai sholat Subuh melanjutkan perjalanan ziarah bahkan tidak sedikit orang di jalan yang menawarkan naik mobilnya di sepanjang perjalanan selama ziarah berlangsung Ilham lebih memilih tuk tetap berjalan kaki pulang pergi ziarah wali songo. Perjalanan jalan kaki pulang pergi memakan waktu selama 2 bulan lewat 10 hari dalam keadaan sehat wal'afiat. Pada Semester awal Ilham tidak masuk kuliah, saat itu ada pengabsenan hanya Ilham yang tidak hadir dicari oleh Dosen akhirnya Subhan Fajri buka rahasia Ilham masih dalam perjalanan napak tilas semua mahasiswa yang tidak tahu jadi pada tahu semua, beberapa hari kemudian sampai juga ilham ke Suryalaya dalam keadaan selamat sehat wal'afiat dan kembali masuk kuliah saat jumpa teman di kampus kena berondong berbagai macam pertanyaan.... 


Selama napak tilas ilham tidak merasa kekurangan uang namun sebaliknya uang seadanya yang ia bawa itu terus saja bertambah banyak tidak habis tiap kali dipakai berbelanja baik itu makanan maupun minuman di warung atau pertokoan. Tiap kali singgah berbelanja makanan minuman banyak di perhatikan orang, selalu ada saja yang mereka pertanyakan mengenai arah tujuan terus memberi uang tanpa Ilham sangka, ada yang memberi sejumlah roti, indomie sampai tas yang ia miliki tidak muat lagi, barang bawaan pun jadi bertambah berat tuk di bawa selama masa perjalanan tentunya dalam perjalanannya ia bagikan lagi makanan minuman itu kepada para musafir tuk meringankan beban bawaannya.  Seringkali selama berbelanja pemilik warung dan pertokoan minta di do'akan buat kelancaran usahanya dll... mereka pun memberi uang kepada ilham, begitulah seterusnya uang jadi semakin banyak hingga selesai masa perjalanan napak tilas selamat sampai tujuan. Semua ini berkah karomah Guru Mursyid Pangersa Abah Anom.


Ilham mendengar di masa ini ada 4 Wali Mursyid yang Masyhur dan banyak orang menyebutnya Sulthon Aulia di masa ini di antaranya adalah Alm. KH. Zaini Abdul Ghani Al-Aidrus ( Guru Sekumpul, Martapura Kalimantan Selatan ), Syaikh Nazim Adil Haqqani Al-Qubrusi An-Naqsbandi dari Cyprus Turkey, Al-Habib Abdul Qodir As-Saqqof dari Jeddah dan yang terakhir Sayyidi Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin ( Abah Anom, Suryalaya Tasikmalaya ). Sulthon Aulia hanya satu di setiap masa tidak mungkin lebih dialah Wali Mursyid yang paling taqwa pada zamannya.


Singkat cerita Ilham bersama Ustaz Jufri ikut juga bersama anak istri Pamitan ke Abah Anom mau Pulang Ke Pontianak di tengah kondisi padatnya arus mudik Lebaran 2007. Sebelum berangkat Ustaz Jufri sempat telpon ke Pengurus tiket Tanjung Priok dapat kabar masih ada tiket namun sesampainya di Pelabuhan Tanjung Priok kaget bukan kepalang tidak kedapatan tiket lantaran tiket keburu habis di beli orang sedangkan barang yang dibawa banyak. Mau balik lagi ke Tasikmalaya tidak mungkin ongkos pas-pasan. Mereka ikhtiar mohon bantuan para petugas kapal agar bisa bantu mereka dapat naik dan ikut berangkat seperti yang lain pembayaran langsung di atas kapal, namun usahanya selalu sia-sia permintaan di tolak mentah-mentah tanpa belas kasih. Ketatnya pengawasan Kapal lantaran belum lama ada kasus tenggelamnya kapal Laut Senopati yang banyak memakan korban Jiwa, Kapal membawa angkutan melebihi kapasitas. Air mata pun metetes di pipi ustaz jufri bersama isteri dan anaknya yang masih bayi menangis keras. Ilham duduk termenung hatinya begitu perih, sakit hatinya melihat pemandangan yang baru saja ia saksikan sendiri. Hari sudah larut malam berada di pelabuhan dan kapal pun sudah di hidupkan siap mau berangkat meninggalkan mereka, pakaian mulai basah di guyur Hujan fikiran jadi panik. Berkecamuklah dalam diri ilham berbagai pertanyaan besar tentang siapa gurunya apa maqomnya segala bentuk karomah Abah Anom sering ia dengar tidak sedikit Ulama yang meyakininya sebagai hamba Allah yang paling taqwa pada zamannya Sulthon Aulia pada masanya. Namun di lain pihak pun punya keyakinan yang sama mengenai Guru Mursyidnya. Banyaknya perbedaan keyakinan mengenai hal ini ada yang meyakini sesungguhnya Mursyid dari Thoriqoh Alawiyah Al Habib Abdul Qodir As-Saqqof di Jeddah dialah sulthon Aulia pada masanya, keyakinan berbeda  dari Thoriqoh Naqsbandi Haqqani juga menyatakan Syaikh Muhammad Nazim Adil  Haqqani adalah sulthon aulia di zamannya. Keyakinan yang sama tidak kalah datangnya dari jama'ah Thoriqoh Sammaniyyah yang meyakini Tuan Guru Sekumpul Syaikh Ahmad Zaini Abdul Ghani Al Aidrus Martapura pamungkasnya para wali gauts zaman al wali qutbil Akwan kewalian yang hanya bisa dicapai oleh para sadah dalam 200 tahun sekali sebagai khalifah Rasulullah pada zamannya.
….. nah dalam kepanikan itu terlontarlah ucapan dan janji Ilham saat itu selaku Muridnya Abah Anom ilham sempat berucap kepada Ustaz Jufri, Jika benar Pangersa Abah Anom itu Sulthon Aulia zaman ini pasti bisa masuk dengan kehendak Allah melalui perantaran berkah karomahnya….. jika kapal itu meninggalkan kita Ilham telah berjanji pada diri sendiri tidak akan pernah mengakui Pangersa Abah Anom sebagai Sulton Aulia walaupun seluruh ulama mengakuinya Ilham hanya mengakui Pangersa Abah sebagai Wali Mursyid saja….. Ilham berdoa mohon pada Allah Yang Kuasa agar di tunjukkan siapa sebenarnya Pangersa Abah Anom itu benarkah keyakinan orang-orang mengenainya yang meyakininya sebagai Sulthon Aulia sejak tahu 2001 silam ??? di saat yang sama hidup juga 3 orang Mursyid Agung di negeri yang jauh tidak kalah masyhurnya di yakini oleh jama'ahnya sebagai Sulthon Aulia di zamannya. Dalam suatu pemerintahan hanya ada 1 raja tidak mungkin berjumlah 4 orang dalam waktu dan masa yang sama. 

Ilham pun bermunajat kepada Allah mohon di tunjukkan siapa di antara 4 org Wali Mursyid yang telah mencapai maqom sulthon aulia tuk zaman ini jadikan lah hamba yang lemah ini sebagai salah seorang saksi hidup… tunjukkanlah hambamu ini satu isyarat saja tuk bisa mengenalnya yakin seyakin-yakinnya tanpa syak wasangka bahwa beliau Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin sesungguhnya SULTHON AULIA ZAMAN INI……Subhanallah beberapa menit kemudian dengan kehendak Allah SWT melalui perantaraan barokah karomah Pangersa Abah Anom beberapa menit kemudian kami di panggil para Petugas kapal secepatnya masuk ke dalam kapal lewat lantai  bawah karena tangga di atas kapal sudah di tutup rapat, di dalam kapal pun di lindungi sebagian petugas kapal, untuk alas kasur dan makan di antar oleh para petugas kapal, bayar ongkos berangkat langsung di atas kapal dengan harga terjangkau, tidak terkena pemeriksaan karena mendapat perlindungan langsung dari sebagian petugas kapal mereka pun begitu di hormati oleh para petugas kapal hingga sampai ke tujuan dengan selamat...


 

 
Selama menjalani Riadhoh Thoriqoh ada beberapa hal yang sangat sulit di pahaminya di antara beberapa impiannya, hanya kepada Allah ia berpasrah diri. 

Suatu Malam Ilham pernah mengalami mimpi yang aneh yang sulit di mengerti mimpi bertemu Guru Agung Pangersa Abah Anom...


Suatu Malam Ilham bermimpi bertemu Pangersa Abah Anom... dalam mimpi itu beliau sedang berjalan-jalan dengan kursi rodanya mendadak ibu jari kaki kanan beliau tersandung sebuah batu besar beliau pun merasakan sesuatu di ibu jari kaki kanannya sakit kemudian rasa itu naik berpindah dan terkumpul seluruhnya di telunjuk jari kanannya yang terus membengkak seperti sebuah bisul yang telah masak beliau terus komat kamit seperti membaca sesuatu kemudian pecahlah bisul itu, dari telunjuk jari kanan beliau yang mulia itu memuncratkan darah merah segar jatuh ke tanah. Ilham rebut darah itu di tanah tanpa sisa semuanya sudah terkumpul di genggaman tangan kanannya anehnya Ilham tempelkan darah segar beliau itu ke jidatnya sambil berucap berkah karomah Pangersa Abah Anom.... Ilham terbangun dari tidurnya waktu menunjukkan sepertiga akhir malam.

Di waktu yang berbeda 4 bulan sebelum meninggalnya Wali Mursyid dari Thoriqoh Sammaniyyah Tuan Guru Sekumpul Sayyidi Ahmad Zaini Abdul Ghoni Al 'Aidrus Martapura Kalimantan Selatan. Berjumpa beliau belum pernah selama ini hanya bisa melihat foto dan mendengar kebesaran dan keharuman nama beliau dari para ikhwan. Dalam tidurnya Ilham bermimpi datang bersilaturahmi ke Madhrasah beliau yang mulia. Di sana telah berkumpul para ulama dan habaib semuanya berjubah putih duduk mengelilingi beliau yang sudah sangat kelelahan seperti hendak akan pergi jauh. Ilham kemudian duduk paling belakang ia perhatikan wajah beliau pucat dan sangat kelelahan memakai busana jubah putih tanpa kopiah tanpa sorban. Tuan Guru sekumpul seperti menyampaikan wasiat terakhir beliau kepada semua hadirin yang ada. setelah memberikan wasiat terakhir semua hadirin pun bubar pamitan pulang ke tempatnya masing-masing dan Tuan Guru Sekumpul pun masuk kembali ke kamar pribadinya. Tinggallah Ilham sendiri di ruang itu dalam hatinya ia bermunajat kepada Allah ' Ya Allah hamba yang lemah ini datang dari jauh ingin bersilaturahmi kepada orang yang Engkau kasihi namun beliau masuk kedalam kamarnya. Tiba-tiba beliau keluar dari kamarnya memakai kopiah dan sorban putihnya beliau pun duduk berhadapan sambil berkata ' ada hajat apa ananda datang kemari ?? kemudian Ilham jawab ' ingin menimba ilmu kepada Tuan Guru apapun itu. Tuan Guru Sekumpul pun diam sejenak bertawajjuh kemudian beliau membuka mulutnya keluarlah dari mulut beliau yang mulia nasi ketan dan beliau letakkan di hadapan Ilham. Beliau memerintahkan Ilham tuk memakan nasi ketan itu namun Ilham sedikit enggan tuk memakannya ia perhatikan nasi ketan itu telah bercampur dengan air liur beliau namun karena itu perintah Tuan Guru langsung Ilham makan nasi ketan itu sampai habis. Tiba-tiba beliau menangis menengadahkan tangannya terus berdoa dan dalam doanya beliau selalu mengucap berkah karomah Aulia Allah.... 
Terbangunlah Ilham dari tidur kemudian melihat jam waktu telah menunjukkan jam 2 malam...

MENYADARKAN KYAI SAKTI

 
Diceritakan Bapak Etje Juardi, ada Ulama yang dikenal sakti namanya Kyai Jured.

Suatu hari Kiai tersebut memiliki rencana untuk menguji karomah Abah Anom dengan kesaktian yang dimilikinya.

Kiai tersebut datang ke Pondok Pesantren Suryalaya dengan satu bis yang membawa 70 santrinya. Semua santri disebar disekitar Pesantren Suryalaya, setelah Kiai itu masuk ke halaman Abah Anom, tidak disangka Abah Anom sudah berada didepan madrasah dan menyuruh Kiai untuk masuk ke madrasah Abah Anom bersama 70 santrinya yang telah disebar. Kiai tersebut merasa kaget akan kasyaf (penglihatan batin)nya Mursyid TQN. Abah Anom meminta Kiai tersebut dan para santrinya untuk makan dahulu yang telah Beliau sediakan di madrasah.

Di dalam madrasah Kiai memuji Abah Anom tentang pesantren Beliau yang sangat luas nan indah, tetapi dibumbui kritik secara halus tentang kekurangan pesantrenya yaitu tidak adanya burung cendrawasih, burung yang terkenal akan bulunya yang indah. Beliau hanya tersenyum dan menimpalinya dengan jawaban yang singkat : “Tentu saja Kiai”. Suatu di luar jangkauan akal setelah jawaban itu burung cendrawasih yang berbulu indah melayang-layang di dalam madrasah yang sesekali hinggap. Kejadian itu membuat terpesonanya akan karomah yang dimiliki Beliau, Kiai itu diam seribu bahasa.

Keajaiban lagi, ketika makan dengan para santrinya yang 70 pun nasi yang di sediakan dalam bakul kecil itu tidak pernah habis.

Namun, Kiai ini masih penasaran dan tidak mau kalah begitu saja, setelah makan Kiai tersebut meminta kepada Beliau untuk mengangkat kopeah/peci yang telah “diisi“, yang sebelumnya dicoba oleh para santrinya tidak terangkat sedikitpun. Subhanallah .. hanya dengan tepukan tangan Abah Anom ke lantai kopeah itu melayang-layang.

Selanjutnya Kiai tersebut mengeluarkan batu yang telah disediakan sebelumnya, dan batu itu dipukul dengan “kekuatan” tangannya sendiri sehingga terbelah menjadi dua, sedangkan belahannya diberikan kepada Abah Anom. Kiai itu meminta kepada Abah Anom untuk memukulnya sebagaimana yang telah dicontohkannya.

Abah Anom mengatakan kepada kiai itu : “Abah tidak bisa apa-apa, baiklah” selanjutnya batu itu diusap oleh tangan Abah dan batu itu menjadi air ,subhanallah…

Kiai menguji lagi karomah Abah Anom dengan kelapa yang telah dibawa santri dari daerahnya. Kiai tersebut meminta yang aneh-aneh kepada Abah Anom agar isi dalam kelapa tersebut ada ikan yang memiliki sifat dan bentuk tertentu.

Dengan tawadlunya Abah Anom menjawab: “Masya Allah, kenapa permintaan kiai ke Abah berlebihan?, Abah tidak bisa apa-apa .
Selanjutnya Abah Anom berkata : “ Baiklah kalau begitu, kita memohon kepada Allah. Mudah-mudahan Allah mengabulkan kita”. Setelah berdoa Beliau menyuruh kelapa itu untuk dibelah dua, dan dengan izin Allah didalam kelapa itu ada ikan yang sesuai dengan permintaan sang kiai. Subhanalllah…

Selanjutnya, entah darimana datangnya di tangan Abah Anom sudah ada ketepel, dan ketepel itu diarahkan atau ditembakan kelangit-langit madrasah, sungguh diluar jangkauan akal, muncul dari langit-langit burung putih yang jatuh dihadapan Kiai dan Beliau

Setelah kejadian itu, Kiai menangis dipangkuan Abah Anom Akhirnya Kiai memohon kepada Abah Anom untuk diangkat menjadi muridnya.

Kiai itu ditalqin dzikir TQN Setelah ditalqin Kiai menangis dipangkuan Abah Anom sampai tertidur. Anehnya, Bangun dari tidur sudah berada dimesjid. Subhanallah….


ABAH MENGETAHUI ISI HATI MURIDNYA
Tersebutlah seorang kiayi bernama KH.Tohir yang sedang menimba ilmu di salah satu pesantren di kotanya. Konon Sang Guru yang mengajarkan ilmu di pesantrennya tersebut melarang Kiayi Tohir untuk tidak menemui seorang kiayi besar yang tinggal di Suryalaya bernama Abah Anom, apalagi berguru kepadanya. Namun, setelah melalui penelusuran dan pembelajaran ilmu tassawuf yang diajarkan di Pesantren Suryalaya, akhirnya kiayi Tohir meminta kepada Abah Anom untuk dibaiayat atau ditalqin dzikir (di ajarkan dzikir Thoriqoh). Namun, tentu saja dalam benak kiayi Tohir kunjungannya ke Abah Anom yang tanpa sepengatahuan gurunya itu akan membuat murka di pesantren dikotanya. Apalagi, setelah di talqin dzikir (pengajaran dzikir thoriqat) ada suatu amanat dari Abah Anom yakni ucapan salam yang harus disampaikan kepada guru dipesantrennya. Ketika kiayi Tohir sedang duduk menunggu sholat berjamaah di Mesjid Nurur Asror di Kompleks Pesantren Suryalaya sebelum ia kembali bertolak ke kampung halamannya, pikirannya terus berkecamuk tidak bisa tenang. Ketika dalam benaknya terbersit bagaimana wajah murka gurunya yang sedang memarahinya habis-habisan karena ketidak taatannya, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dengan sorban dan berkata: “Tong sok goreng sangka kabatur, komo ka guru soranganmah, boa teuing teu kitu! dalam bahasa Indonesia : “jangan selalu berburuk sangka terhadap orang lain, apalagi terhadap guru sendiri, belum tentu seperti itu “. Kiyai Thohir begitu kaget ternyata yang menepuk pundak dan membaca pikirannya itu adalah guru ruhaninya yang baru, yaitu Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin ra (Abah Anom). Dari kejadian itu Kiai Thohir mendapatkan pelajaran yang berharga bahwa seorang guru ruhani Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah bisa mengetahui hati murid-muridnya dimanapun mereka berada. Mursyid akan terus mengawasi dan membimbing hati murid-muridnya agar hati selalu menuju Allah
Sepulang dari Pesantren Suryalaya dan kembali ke Pesantren dikampungnya, Kiai Thohir menyampaikan amanat salam dari Mursyid Kammil Mukammil Syekh ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin ra kepada gurunya. Dan ternyata, diluar dugaan Kiayinya yang dipesantren itu malah memuji Abah Anom bahkan Kiayi Thohir sebagai salah satu murid kesayangannya itu dianjurkan untuk menjalankan ajaran yang di bawa oleh Abah Anom sebagai pewaris para Nabi.
Selanjutnya, Kiayi Thohir mengabdikan diri sepenuhnya kepada Abah Anom dan mengamalkan ajaran yang telah diajarkannya. Akhirnya Kiai Thohir dipercaya menjadi salah satu wakil Talqin, yaitu orang yang di izinkan untuk mengajarkan atau mengijazahkan dzikir Thoriqoh kepada orang yang membutuhkannya.

BAYANGAN WAJAH ABAH ANOM MEMBUAT SEORANG PEMUDA BERTAUBAT DARI HOBI MELACUR

Cerita ini diambil dari ceramahnya KH.M.Abdul Gaous Saefulloh Al-Maslul atau Ajengan Gaos salah satu wakil Talqin Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, Jawa Barat Indonesia.
Diceritakan ada seorang pemuda yang hobinya melacur, pemuda tersebut berniat untuk berhenti dari pebuatannya yang tercela. Sudah berbagai cara dilakukan untuk menghentikannya itu tidak membuat minat lacurnya berhenti. Padahal, pelaksanaan amalan ibadah yang “super ketat” atas petunjuk dari para kiai yang pernah dikunjungi dari berbagai daerahpun belum berhasil. Jadi, Sudah tidak asing lagi baginya riyadloh (latihan) seperti puasa, dzikir, sholat baik yang sifatnya wajib maupun sunat dan amalan lainnya.
Dalam keadaan kondisi jiwa yang begitu kritis, datanglah pemuda itu ke Pondok Pesantren Suryalaya untuk menemui seorang Waliullah yaitu Abah Anom dan menceritakan maksud kedatangannya. Abah Anom berkata : “Tidak apa-apa, asal jangan dilakukan didepan Abah”. Setelah itu pemuda yang hobi “jajan” perempuan ditalqin dzikir TQN untuk diamalkan.
Seperti biasa pemuda tersebut datang ke hotel yang telah dipesan untuk melaksanakan hasrat nafsunya “meniduri” wanita pelacur. Setelah siap-siap semuanya, terbesit dalam jiwanya akan bayangan wajah Abah Anom “Asal jangan dihadapan Abah!”, pemuda itu terkejut dan gelisah, dengan segera meninggalkan hotel. Gagallah keinginan nafsunya.
Dihari yang lain, pemuda itu datang lagi ke hotel untuk melaksanakan hasrat nafsunya yang tidak terbendung. Namun, disaat detik-detik akan melaksanakan maksiatnya muncul wajah Abah Anom “Tidak apa-apa, asal jangan dihadapan Abah”. Pemuda itu kembali mengurungkan niatnya dan kembali pulang.
Kejadian itu terus terulang selalu melihat bayangan wajah Abah Anom disaat-saat akan melakukan maksiat dengan pelacur. Akhirnya, dengan kejadian itu pemuda tersebut menghentikan dari hobinya melacur untuk selamanya dan menjadi pengamal Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyyah.
Sesungguhnya kejadian itu suatu anugrah dari Allah untuk hamba yang dicintai dengan perantara Mursyid sebagai pilihan-Nya. Subhanallah..
Bayangan wajah Mursyid itu adalah sebagai burhana robbihi (cahaya / tanda dari Allah) yang membawa berkah terhadap pemuda tersebut.
Kita teringat akan kisah salah satu utusan Allah yaitu Nabi Yusuf as. yang ditolong Allah ketika akan terjadi maksiat dengan Siti Zulaikha. Dalam al-Qur’an Surat Yusuf ayat 24: “Sesungguhnya wanita itu telah bemaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf-pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu (Zulaikha) andaikata tidak melihat burhana robbihi yaitu tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS: Yusuf 24)
Dalam ayat ini terdapat perkataan Allah “Burhana Rabbihi”. Menurut perkataan Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir, juz II / 474 : “Adapun maksud “Burhaana Rabbihi” yang terlihat oleh Yusuf, maka terdapat beberapa pendapat. Menurut sahabat Abdullah bin Abbas, Said, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Muhamad bin Sirin, Hasan, Qatadah, Ibnu Sholeh, Dlohah, Muhammad bin Ishaq dan lain-lain yakni Yusuf melihat bayangan ayahnya (Ya’kub), rupanya, bentuknya seakan-akan ayahnya marah-marah. Menurut sebagian riwayat memukul dada Yusuf. Al-‘Aufi berpendapat dari Ibnu Abbas, maksud perkataan itu ialah Yusuf teringat kepada bayangan wajah suami Zulaikha yaitu raja Qithfir yang seolah-olah ada dirumah dan mengetahui apa yang akan diperbuat Yusuf. Demikian juga Muhammad bin Ishaq berpendapat yang sama.” (Tafsir Ibnu Katsir, II / 474) Subhanallah…


DAGING BERUBAH JADI MANUSIA

Cerita ini diambil dari ceramahnya KH.M.Abdul Gaous Saefulloh Al-Maslul atau Ajengan Gaos salah satu wakil Talqin Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, Jawa Barat Indonesia.

KH. Maksum memiliki seorang istri yang sedang mengandung. Menurut fonis dokter, istri kiayi tersebut bukanlah kehamilan normal yang biasanya terjadi pada seorang wanita. Namun istri KH.Maksum di vonis menderita kangker dan harus segera dioperasi.

Sang Kiayi akhirnya datang ke Suryalaya ingin bertemu Pangersa Abah Anom untuk meminta doa beliau agar istrinya diberi kelancaran saat operasinya nanti. Ketika kiayi Maksum mengutarakan maksudnya tersebut, Abah hanya berkata: “Heug, sing jadi jelema”, dalam bahasa Indonesia: iya, jadi manusia, maksudnya adalah semoga kandungan istri kiayi Maksum menjadi manusia dengan izin Allah.

Dan ternyata, baru saja istri kiayi Maksum satu langkah keluar dari rumah Pangersa Abah, dia merasakan gerakan-gerakan dalam rahimnya itu, subhanallah. Kontan saja istri kiayi Maksum kaget, dan langsung memeriksakan dirinya ke Dokter. Lalu apa kata Dokter? Subhanallah, Dokter pun sama terkejutnya dengan pasangan suami istri Kiayi Maksum tersebut.

Allahu Akbar, kun fayakun, dengan izin-Nya melalui doa Kekasih-Nya, daging jadi yang asalnya akan diangkat tersebut, ternyata berubah menjadi sesosok manusia kecil yang menggemaskan berjenis kelamin laki-laki. Ya, ternyata setelah dioperasi daging jadi itu berubah menjadi seorang bayi, yang diberi nama Sufi Firdaus.

Idos panggilan anak ini, hingga saat ini masih hidup dan mengabdikan dirinya untuk menjadi murid Syeikh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin qs. (Abah Anom).


TAUBATNYA SEORANG PEMUDA
Abdul telah tiada. Bunga di atas kuburan Abdul yang terletak di area kuburan blok Nyongklang Selajambe Kab. Kuningan tampak masih segar sekalipun sudah tiga hari terpanggang panas terik matahari. Begitu pula gundukan tanah merah tampak terlihat masih basah padahal kuburan sekelilingnya sudah kering bahkan terlihat retak-retak akibat kemarau berkepanjangan.
Sepintas, tak ada yang istimewa pada kuburan tersebut. Sama saja seperti kuburan yang lainnya. Namun sesuatu yang beda akan terasa disana. Wangi bunga akan tercium manakala orang melewati kuburan tersebut. Emangnya, siapa sich, yang “tertidur” di dalam sana? Inilah kisahnya….
Adalah Abdul, seorang laki-laki yang 3/4 usianya dihabiskan dalam lembah kemaksiatan. Di kota Metropolitan, Abdul menjelma menjadi bajingan yang Super Haram Jadah. Ia adalah jagoan yang tak pernah kenal rasa takut. Bagi sesama penjahat, Abdul adalah momok yang menakutkan. Bagi polisi lelaki yang sekujur tubuhnya dipenuhi tato wanita telanjang itu merupakan sosok penjahat yang super licin yang sulit ditangkap karena kepandaiannya menggunakan jampi-jampi sehingga mampu berkelit dari kejaran aparat. Kapanpun dan dimanapun, perbuatan maksiat tak pernah ia lewatkan.
Hingga suatu malam di bulan November 2005….. Niat jahatnya muncul kembali ketika melihat seorang penumpang wanita sendirian di mobil omprengan daerah Plumpang, Jakarta Utara. Bersama dua orang temannya, ditodongkannya pisau ke arah sopir dan kernet yang tidak berdaya menghadapi ancaman tersebut. Keduanya lalu diikat lalu Abdul CS. membawa kendaraan tersebut ke salah satu tempat di Bogor yang sudah mereka persiapkan sebelumnnya.
Sesampainya di tempat, Abdul CS. bermaksud untuk memperkosa wanita cantik tersebut. Dengan cara paksaan, wanita itu -sebut saja Sinta- diminta untuk melayani nafsu binatangnya. Namun Sinta berupaya sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari bahaya sambil berteriak : “Abah, Abah, Abah, tolong saya!”. Subhanalloh, atas kehendak-Nya, disaat Abdul akan melampiaskan nafsu kebinatangannya, tiba-tiba saja “burung” miliknya mendadak terkulai lemas dan ia merasakan kesakitan yang luar biasa. Begitu juga kedua temannya yang akan memperkosa Sinta mengalami hal serupa. Dalam keadaan seperti itu, Sinta langsung melarikan diri………..
Setelah kejadian tersebut, Abdul CS mengalami nasib naas. Kemaluannya membengkak dan tiga bulan kemudian, dua orang temannya mati mengenaskan akibat “burung”nya MEMBESAR. Untunglah, Abdul cepat sadar. Ia tahu, bahwa peristiwa tersebut merupakan hukuman dari Allah atas dosa-dosa mereka yang telah diperbuat. Lalu, ia menemuia salah seorang temannya yang sudah terlebih dahulu insyaf dan bertaubat.
Setelah diutarakan maksud dan kedatangannya, teman Abdul tersebut membawanya ke salah satu Majlis Dzikir dan kemudian bertaubat. Melalui Kiayi yang menuntunnya, iapun tahu bahwa taubat tidak berarti harus menghilangkan seluruh tato yang ada ditubuhnya. Dengan semangat yang kuat dan tekad yang membaja, Abdulpun mendapatkan Talqin Dzikir dan mengamalkan semua amaliahnya seperti Khotaman meskipun dia hafalkan dari latinnya.
Teman-teman seprofesi dulu di Jakarta banyak yang ia temui sehingga dia memutuskan untuk hijrah dari Jakarta ke kampung halamannya, takut jika niat jahatnya kembali muncul. Di kampung halamannya, masyarakat tidak begitu saja bisa langsung menerimanya, malah menaruh rasa curiga bahkan tak jarang kata-kata pedas sering dilontarkan kepadanya. Berbekal TANBIH dan dzikrullah, ia tetap tersenyum dan berbaik budi. Sehingga akhirnya masyarakatpun dapat menerima, bahwa Abdul telah kembali ke jalan yang lurus.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dia menjadi buruh tani dan pekerjaan serabutan lainnya hanya untuk sesuap nasi sehingga tetap bisa melaksanakan amaliah dzikrullah seperti yang pernah didapatkannya di Jakarta. Hingga akhirnya, pada hari Jum’at di tahun 2006 selepas Subuh, ia dipanggil kembali oleh Allah dalam posisi Tawajuh.